Tampilkan postingan dengan label Dinul Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dinul Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Taklif syarat wajibnya ibadah, sedangkan Tamyiz syarat sahnya ibadah

Taklif atau orang yang mencapainya disebut sebagai mukallaf yaitu yaitu orang yang telah dibebankan kewajiban syar'i atasnya. seorang mukallaf wajib melaksanakan kewajiban syar'i  serta haram melanggar keharamannya. seseorang disebut mukallaf apabila memenuhi dua syarat: 

1. baligh
seorang disebut baligh bila terdapat salah satu tanda berikut :
 
a. Ihtilam
Dan apabila anak-anakmu telah mencapai umur baligh (ihtilam)....(an Nur 59)
b. sempurna lima belas tahun
Dari Ibnu Umar radhilallahu anhu berkata : "Dia menawarkan dirinya untuk ikut perang Uhud dan saya saat itu berumur empat belas tahun, ternyata Rasulullah shalallahu alaihi wa salam tidak memperbolehkanku. Kemudian saya menawarkan diriku pada perang khandaq dan saya saat itu berumur lima belas tahun, dan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memperbolehkanku (HR Bukhori dan Muslim) Baca selengkapnya

Kamis, 09 Juni 2011

Berjilbab dengan Ilmu

Melakukan segala sesuatu itu harus dengan ilmu, kalau tidak apa yang kita lakukan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena melakukan sesuatu tanpa ilmu yang cukup hanya akan menghasilkan pemahaman yang terkesan ikut - ikutan atau bahkan terlihat seperti asal asalan tanpa aturan.

Saat ini banyak sekali muslimah yang melengkapi pakaiannya dengan kerudung. Sebenarnya kalau bicara soal kerudung, Jilbab adalah pakaian wajib bagi para muslimah. Mungkin selama ini ada pemahaman yang salah antara jilbab dan kerudung yang perlu sedikit di luruskan. Kalau bicara tentang jilbab, sebenarnya kita sedang bicara tentang pakaian yang longgar yang menutup aurat dari kepala sampai kaki, termasuk didalamnya adalah kerudung yang menutupi kepala. Kerudung yang digunakan juga kerudung yang sesuai dengan apa yang sudah di gambarkan dalam Al Qur’an, yang panjang sampai menutupi dada. An-Nuur 31 : ” Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakannya kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya … “ Baca Selengkapnya

Jumat, 14 Januari 2011

Contoh Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama

Berikut ini adalah beberapa contoh khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama Ahlus Sunnah akan tetapi mereka tidak saling mengingkari. Namun mereka berusaha menjelaskan pendapat yang paling benar menurut mereka, tanpa adanya sikap saling menjatuhkan, terlebih lagi saling tahdzir, hajr, apalagi tabdi.

[1]. Khilaf antara Syaikh Al-Albani dan Syaikh Ibnu Baaz rahimahumallah mengenai boleh tidaknya tentara Amerika berpangkalan di Arab Saudi untuk menghancurkan Irak. Syaikh Ali bin Hasan menjelaskan bahwa khilaf ini bukanlah khilaf yang biasa-biasa saja, namun merupakan khilaf yang nyata. Meskipun demikian mereka tetap tidak saling hajr [1]. Padahal jika kita perhatikan, khilaf ini berkaitan dengan keselamatan orang banyak dan berkaitan dengan masa depan negeri Saudi. Keduanya saling mempertahankan pendapat, tetapi mereka tetap saling mencintai dan saling menghormati.

[2]. Khilaf antara Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani rahimahumallah mengenai masalah sedekap setelah ruku’ (ketika i’tidal). Syaikh Al-Albani memandang hal ini merupakan bid’ah. Sebaliknya Syaikh Ibnu Baaz memandang bahwa hal ini disyari’atkan. Namun apakah Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa orang yang berpendapat seperti pendapat Syaikh Ibnu Baaz adalah ahli bid’ah? Tentu saja tidak. Padahal Syaikh Al-Albani benar-benar meyakini bahwa hal itu merupakan bid’ah. Sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan tiap kesesatan adalah di Neraka.

Mungkin saja nanti ada orang yang membesar-besarkan masalah ini, lalu menjadikannya sebagai ajang perpecahan, dengan alasan bahwa bid’ah itu berbahaya dan kita tidak boleh meremehkan bid’ah sekecil apapun. Pernyataan tersebut benar jika yang dimaksud adalah bid’ah yang disepakati oleh ara ulama. Adapun bid’ah yang masih diperselisihkan maka pernyataan ini tidak berlaku. read more

Kamis, 06 Januari 2011

Tinggalkan Pendapat Kami bila Bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah!!!

Setahu saya dulu,  kita wajib mengikuti salah satu dari imam 4 imam mazdab. Yang mana bila sudah kita tetapkan satu mazdab maka kita wajib mengikuti semua yang dituntunkan oleh imam mazdab tersebut tanpa menghiraukan pemahaman2 imam atau ulama yang lain.  Alhamdulillah seiring bertambahnya waktu, saya diberi sedikit pemahaman tentang agama ini. Sekarang saya tahu bahwa pemahaman saya dulu itu keliru. Kita tidak wajib mengikuti semua tuntunan dari para imam mazdab. Yang wajib kita ikuti adalah tuntunan dari mereka yang sesuai dengan Al - Qur'an dan as - Sunnah yang shahih. Kalau yang tidak sesuai dengan Al - Qur'an dan as - Sunnah yang shahih ya kita tinggalkan. Kita ambil tuntunan yang lebih kuat hujjahnya. Dan para imam mazdab pun sejalan dengan hal ini.. Mari kita baca perkataan ulama mazdab berikut : read more

Senin, 03 Januari 2011

Nikmat Yang Dilalaikan

Banyak orang menyadari bahwa hidup dunia sangat singkat dan bersifat sementara. Namun kesadaran ini kebanyakan tidak diikuti dengan perilaku yang menghargai waktu. Alhasil, waktu sering terbuang percuma tanpa kita sadari.

Ketahuilah, wahai saudaraku! Waktu, bagi seorang muslim yang menyadari betapa berharganya tujuan hidupnya di dunia, tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja dengan sia-sia. Ia tidak mengatakan seperti perkataan orang Barat materialis yang cinta dunia, time is money. Tapi ia mengatakan "waktu itu untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala". Umur kita pendek, waktu kita cuma sedikit, sementara kita harus mempersiapkan bekal yang banyak untuk menempuh perjalanan menuju kampung akhirat, bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barangkali kita semua menyadari bahwa waktu hidup kita di dunia memang hanya sebentar, tidak ada yang hidup kekal. Namun entah mengapa kebanyakan dari kita tidak bisa menjaga waktu dengan baik sehingga waktu berlalu sia-sia tanpa diisi dengan amal kebaikan. read more

Jumat, 31 Desember 2010

Apakah hati kita lebih keras dari batu?

Bismillahirrahmanirrahim,

Ada apa dengan kekerasan hati ini ketika memnbaca firman Allah? 

Mengapa hati-hati ini serasa terkunci? Ancaman - ancaman disampaikan, pelajaran - pelajaran diperdengarkan, dan gambaran - gambaran dibacakan. Akan tetapi, itu hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. 

Siapa diantara kita yang menangis ketika membaca surat Al - Haaqqah?
Siapa yang gemetar ketika mendengar surat Az - zalzalah?
Siapa yang bertaubat dihari ketika dia membaca Al - Qiyamah?
Apa pengunci yang ada dihati ini?
Apakah hati kita lebih keras dari batu??


Ketahuilah, kalaulah Al - Qur'an ini diturunkan kepada gunung, sungguh dia akan tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Akan tetapi hati - hati ini telah mengeras maka dia seperti batu, bahkan lebih keras lagi.Padahal dari batu - batu itu pasti ada sungai - sungai yang ( airnya ) memancarkan daripadanya. Adapula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan ( Q.S. : Al - Baqarah :74 ). 

Semoga Allah melindungi kita serta kalian semua dari kekerasan hati dan kelalaian. Amin. 


Oleh : Syaikh Su'ud As Shuraim